Blogger Widgets TAMAMI JAYA: MAKALAH
SELAMAT DATANG Di Web tamamijaya.blogspot.com Jalan DR.Wahidin 76 Dema'an Jepara
Showing posts with label MAKALAH. Show all posts
Showing posts with label MAKALAH. Show all posts

Monday, 19 January 2015

KEPERCAYAAN DIRI



BAB I
PENDAHULUAN

Banyak ahli yang mengatakan bahwa percaya diri adalah modal yang sangat penting untuk meraih kesuksesan. Ini juga yang akan menjadi pembeda antara pemenang dan pecundang.Percaya diri merupakan sikap positif seseorang yang mampu mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Bukan berarti ia adalah mampu dalam segala hal.
Ia tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya, namun pada saat yang sama ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa melakukannya. Hal ini semata-mata didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistis terhadap diri sendiri.     
Seperti yang dialami seorang atlit, tahun 1999 bisa jadi merupakan tahun terindah bagi Irene Truijte Joseph. Ia tak hanya memecahkan rekor nasional 200 meter putri yang sudah berusia 18 tahun milik Henny Maspaitella, tapi juga merebut satu emas serta dua perak di SEA GAMES-XX Brunei Darussalam tahun 1999. Namun seiring berjalannya waktu, bukan grafik menanjak yang dialaminya tetapi cedera yang membuat prestasinya menurun. Medali emas di ajang regionalpun menjauhinya. Di SEA GAMES 2001 Kuala Lumpur, ia hanya meraih perak di 200 meter putri. Gangguan pada jantung membuatnya makin merosot sehingga dalam kurun empat tahun ia harus memulai lagi dari bawah.
Dua tahun ia menapak mengembalikan kepercayaan dirinya kembali, dan pada seleknas SEAG 2003 di Stadion Madya GOR Bung Karno 19 – 22 Oktober ia jadi juara dan mengalahkan pesaingnya di 100 meter dengan waktu 11,92 detik
            “Hasil itu di luar dugaan karena saya lebih fokus di nomor 200 meter. Dengan hasil ini saya mematahkan anggapan orang bahwa saya tidak akan berhasil lagi di 100 meter putri“ ujar Irene. Kembalinya kepercayaan PB PASI dengan memasukkan Irene dalam tim atletik ke SEAG Vietnam 2003 diharapkan sejalan dengan munculnya rasa percaya diri pada dirinya sehingga hasil yang diraih akan dapat lebih mengembalikan rasa percaya diri.  

BAB II
PEMBAHASAN

 Dalam bahasa gaul harian, pede yang kita maksudkan adalah percaya diri. Semua orang sebenarnya punya masalah dengan istilah yang satu ini. Ada orang yang merasa telah kehilangan rasa kepercayaan diri di hampir keseluruhan wilayah hidupnya. Mungkin terkait dengan soal krisis diri, depresi, hilang kendali, merasa tak berdaya menatap sisi cerah masa depan, dan lain-lain. Ada juga orang yang merasa belum pede dengan apa yang dilakukannya atau dengan apa yang ditekuninya. Ada juga orang yang merasa kurang percaya diri ketika menghadapi situasi atau keadaan tertentu. Berdasarkan praktek hidup, kita bisa mengatakan bahwa yang terakhir itu normal dalam arti dialami oleh semua manusia. Sebenarnya apa sih yang kita maksudkan dengan istilah pede/percaya diri itu?
Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang percaya diri yakin atas kemampuan mereka sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis, bahkan ketika harapan mereka tidak terwujud, mereka tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya. Menurut Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling (2005:87), percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri. Kalau melihat ke literatur lainnya, ada beberapa istilah yang terkait dengan persoalan pede/kepercayaan diri yaitu ada empat macam, yaitu :
1.      Self-concept : bagaiman Anda menyimpulkan diri anda secara keseluruhan, bagaimana Anda melihat potret diri Anda secara keseluruhan, bagaimana Anda mengkonsepsikan diri anda secara keseluruhan.
2.      Self-esteem : sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri Anda, sejauhmana Anda punya sesuatu yang Anda rasakan bernilai atau berharga dari diri Anda, sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat atau berharga di dalam diri Anda.
3.      Self efficacy : sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general self-efficacy. Atau juga, sejauhmana Anda meyakini kapasitas anda di bidang anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan specific self-efficacy.
4.      Self-confidence: sejauhmana Anda punya keyakinan terhadap penilaian Anda atas kemampuan Anda dan sejauh mana Anda bisa merasakan adanya kepantasan untuk berhasil. Self confidence itu adalah kombinasi dari self esteem dan self-efficacy (James Neill, 2005)
Berdasarkan itu semua, kita juga bisa membuat semacam kesimpulan bahwa kepercayaan diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang, dimana individu dapat mengevaluasi keseluruhan dari dirinya sehingga memberi keyakinan kuat pada kemampuan dirinya untuk melakukan tindakan dalam mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya.
Ketika ini dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, orang yang memiliki kepercayaan rendah atau telah kehilangan kepercayaan, cenderung merasa / bersikap sebagai berikut :
1)      Tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan secara sungguh sungguh.
2)      Tidak memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang)
3)      Mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi masalah atau kesulitan
4)      Kurang termotivasi untuk maju, malas-malasan atau setengah-setengah
5)      Sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab (tidak optimal)
6)      Canggung dalam menghadapi orang
7)      Tidak bisa mendemonstrasikankemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan yang meyakinkan
Sering memiliki harapan yang tidak realistis
8)      Terlalu perfeksionisTerlalu sensitif (perasa)
 Sebaliknya, orang yang kepercayaan diri bagus, mereka memiliki perasaan positif terhadap dirinya, punya keyakinan yang kuat atas dirinya dan punya pengetahuan akurat terhadap kemampuan yang dimiliki. Orang yang punya kepercayaan diri bagus bukanlah orang yang hanya merasa mampu (tetapi sebetulnya tidak mampu) melainkan adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya mampu berdasarkan pengalaman dan perhitungannya.

BAB III
PENUTUP

   Ingat, setiap orang itu berbeda, dengan keistimewaannya masing-masing. Kesadaran akan hal ini akan membantu Anda untuk mengungkap keistimewaan yang Anda miliki. Hal ini akan mendorong Anda untuk bangkit dan bergerak dengan percaya diri, merumuskan cita-cita hidup dan mendukung tercapainya cita-cita tersebut.
Berhentilah menjadi orang minder, yang seringkali cepat menyerah, tersiksa atas kesuksesan orang lain, kehilangan percaya diri, sensitif, hingga tidak memiliki selera humor sama sekali.
 Jika Anda masih merasa kurang dalam beberapa sisi, jangan memposisikan diri dalam posisi bertahan dan lari dari kenyataan. Ini semua bukanlah solusi. Anda akan tetap saja seperti ini, tanpa ada kemajuan yang berarti.
Nah, jika Anda ingin menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional, maka mulailah dari dalam diri Anda sendiri. Hanya Anda sendirilah yang bisa mengubah diri Anda, bukan orang lain. Saran saya, cobalah mengikuti beberapa langkah berikut :
1)      Jujur Menilai Diri Sendiri Ingatlah riwayat keberhasilan, potensi diri, maupun keahlian yang menjadi kelebihan diri Anda. Temukan dan kembangkan potensi yang masih terpendam. Tanyakan pada orang-orang terdekat atau mendatangi psikiater untuk menggali potensi diri
2)      Tetapkan tujuan yang realistis Dengan demikian, Anda akan mudah dalam mencapainya. Percaya diri dalam melangkah, bertindak dan memutuskan segalanya, sekaligus memperkecil resiko yang tidak ditimbulkan.
3)      Beri penghargaan sekecil apapun Jangan pernah meremehkan kemajuan yang Anda peroleh sekecil apapun Apalagi justu terus mengingat kesalahan yang telah Anda lakukan, yang hanya membuat Anda merasa tidak berguna.
4)      Ikuti saran positif dan tolak saran negatif. Tidak selamanya saran orang lain harus Anda ikuti. Tidak setiap orang memberikan support dan bersikap positif. Jangan sampai hal itu melunturkan rasa percaya diri Anda.
5)      Positif thinking Cobalah untuk senantiasa berpikir logis dan rasional, terhadap diri Anda, orang lain, lingkungan dan setiap situasi yang Anda hadapi. Camkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan sangat rentan untuk melakukan kesalahan.
6)      Gunakan self-affirmation Jika Anda masing sering menyatakan, Saya tidak bisa, maka ubahlah menjadi, Saya pasti bisa!. Ini penting untuk terus mengasah percaya diri Anda.
7)      Berani mengambil resiko Cobalah untuk berusaha dan berbuat secara nyata. Tanamkan pada diri Anda: No Risk, No Gain.
8)      Berani menerima tanggung jawab Tanggung jawab mampu mendorong Anda untuk melakukan yang terbaik. Anda akan terbiasa menyelesaikan tugas besar yang dibebankan dengan ringan.
9)      Mencari Lingkungan yang kondusif
Perbanyaklah bergaul dengan orang-orang yang memiliki percaya diri tinggi. Sebab, kePDan pun bisa menular.
10)  Banyak bersyukur dan berdoa Perbanyaklah rasa syukur dan berdoa atas segala hal yang Anda jalani dalam hidup. Nikmati hidup Anda, dan lihatlah hal-hal baik yang telah Anda dapatkan. 



Daftar pustaka :
Dede Isharrudin, 2003 artikel Tabloid BOLA
Anne Ahira.com
Arya, 2010 Belajar Psikologi.com

SEPAK BOLA SEBAGAI SPORT BISNIS



Dari tahun ke tahun, gebyar persepakbolaan di saentero dunia dan khususnya di Indonesia menunjukkan peningkatan kuantitas dilihat dari maraknya tumbuh klub-klub di daerah meskipun secara kualitas masih jauh dari harapan limit sebuah klub sepakbola. Dikatakan profesional tetapi manajemennya amburadul, dikatakan klub amatir tetapi berani tampil di liga professional dengan mencari celah kelemahan organisasi PSSI yang memang lemah. Memang untuk mengharap hadirnya sebuah klub sepakbola disamping program pembinaan atlit muda tidak bisa dipungkiri bahwa pada akhirnya toh sebuah klub sepakbola harus bermuara pada keuntungan, tidak kesenangan saja.
Berpijak dari fakta tersebut, upaya untuk tetap eksis pada kompetisi yang sangat padat dan melelahkan harus ada paradigma yang tidak sekedar berorientasi pada pencapaian prestasi klub saja tetapi harus ada pemikiran kearah yang lebih spesifik yakni keuntungan klub itu sendiri.
Ini fakta yang mengejutkan sekaligus menakutkan, bahwa semua klub di tanah air kalau betul-betul diverifikasi secara profesional tidak bakalan lolos dari segala aspek, utamanya financial. Baik itu di Indonesia Super Liege (ISL) maupun kasta di bawahnya, Divisi Utama maupun Divisi 1 di akhir kompetisi banyak menanggung hutang. Jadi dalam hal ini rata-rata klub sepakbola di Indonesia lebih memikirkan kewajiban menyelesaikan kompetisi daripada memikirkan keuntungan yang harus diraih klub profesional yaitu industri sepakbola.
Benar kata pepatah jawa, Jer basuki mawa beya artinya Setiap klub di ISL yang ingin mengambil pemain-pemain yang bagus harus mempunyai dana yang besar. Tanpa dana yang cukup,  mustahil sebuah klub memboyong pemain mahal untuk bergabung. Dan itu masih diperparah dengan kinerja pengurus klub sepakbola yang model penggalian dananya masih banyak yang berharap pada Pemkab/Pemkot untuk mencarikan solusi dana, dengan dalih semua demi pembinaan putra daerah yang bermain di klub itu. Kalau model penggalian dana seperti itu terus tidak mungkin prestasi pesepakbola di tanah air terutama pemain berusia muda dapat berkompetisi dengan baik karena sebagian besar klub sepakbola di Indonesia saat ini lebih asyik memakai jasa pemain asing tanpa melihat kualitas pemain itu.
            Untuk membahas permasalahan di atas kiranya perlu kita, pelaku-pelaku olahraga khususnya para pengelola dan pengurus klub sepakbola untuk lebih dapat bercermin pada kompetisi di tingkat internasional, baik itu Serie A di Italia, Premier League di Inggris, La Liga di Spanyol ataupun di Bundes Liganya Jerman. Bukan dalam arti meniru atau membuat teknik manajemen seperti di klub-klub itu tetapi dapat terinspirasi dengan model penggalian dananya.
            Sedikit membahas tentang model pendapatan dan penghasilan klub di Serie A, secara standar, pemasukan klub bisa berasal dari penjualan tiket (Termasuk tiket terusan), kontrak televise, merchandising, penjualan pemain, uang hadiah, investasi, sponsorship serta bunga bank. Porsi pemasukan ini semestinya berimbang.
            Di Italia kasusnya tidak demikian. Pemasukan uang klub-klub Serie A sangat bergantung pada kontrak dengan televisi. Angkanya sampai lebih dari 50% total pendapatan klub. Lima klub terdepan Italia bisa dianggap mewakili.
            Pemasukan uang klub AC Milan, dari kontrak televisi mencapai 59% Juventus 54% Inter Milan 58% AS Roma 58% sedangkan Lazio 53%. Klub Italia tidak mampu memaksimalkan pemasukan dari tiket serta sektor komersial., tidak seperti klub kaya di negara lain. Ambil contoh klub paling kaya di dunia tahun 2006 versi Deloitte Football Money League yakni Real Madrid dengan bintang-bintang dunianya seperti Christiano Ronaldo, Higuain, Benzema, Ozil dll. Pemasukan El Real dari kontrak televisi hanya 32% dan tiket 23% . Namun Madrid mampu mendatangkan uang dari bintang mereka lewat sponsorship, lisensi dan merchandising. Pemasukan dari sektor komersial ini bisa mencapai 45%. Dengan kondisi keuangan yang tidak sehat, klub-klub Italia jadi harus memikirkan cara agar mereka bisa survive. Berbagai cara agar mereka tetap survive antara lain ada klub yang memberlakukan salary cap (pembatasan gaji pemain) salah satunya adalah contoh pemain Lazio yakni Gli Aquillotti yang memiliki pendapatan diatas Rp. 9,5 M semusim.
            “Ketika saya memperkenalkan salary cap tiga tahun lalu (tahun 2005), semua menertawakan saya, sekarang ide kami menjadi model.” Ujar bos Lazio Claudio Lotto di Messaggero. Bagi klub yang tidak memberlakukan salary cap, tetap ada cara lain untuk mengurangi pengeluaran gaji. Sebut saja Juventus yang tega memangkas 20% mascot Alexandro Del Pierro dalam proposal perpanjangan kontrak yang baru. Ada pula tren untuk tidak menjual hak siar ke televisi secara kolektif, yang dilakukan sejak 1999. Klub menjual hak siar secara individu, tetapi efeknya ada perbedaan signifikan antara hak siar klub besar dengan klub kecil.
            Tren lain adalah belanja pemain yang tidak lagi menghabiskan dana gila-gilaan. Peminjaman, status kepemilikan bersama (comproprietal) atau merekrut pemain yang sudah berstatus free transfer sehingga gratis merupakan pilihan ideal. Masalah gaji dan pengetatan anggaran belanja pemain ini yang membuat klub-klub Italia belakangan kalah bersaing dengan aksi klub Inggris atau Spanyol di bursa transfer.
            Yang menjadi hal vital adalah mengenai bonus, di Italia bonus paling tinggi yang diberlakukan adalah 6.5 juta euro (sekitar Rp.80 M). Angka ini malah sudah lama dilewati liga-liga di negeri top lainnya, terutama Inggris dan Spanyol.
            Disini bukan tak hendak menggugah klub ISL supaya meniru cara-cara menggali dana klub seperti di atas, tetapi setidaknya model seperti itu dapat dijadikan referensi untuk menjadikan klub ISL lebih profesional dan layak jual sehingga dapat bersaing secara kuantitas maupun kualitas. Tetapi sekali lagi dalam hal ini induk organisasi seperti PSSI juga perlu dipertanyakan posisinya dalam urusan sponsorship.
            Pada akhirnya memang harus ada wacana pembebasan klub untuk mencari sponsor tanpa harus melibatkan pihak BLI. Misalkan Persija Jakarta dapat menghitung pemasukan klub seandainya dari Tiket 16% Komersial 25% Kontrak TV 59% atau Arema Malang dari tiket berani 42% Komersial 29% Kontrak TV 29% atu dengan klub SriwijayaFC Palembang mematok Tiket 24% Komersial 59% Kontrak TV 17%.
            Sponsor merupakan salah satu sumber pemasukan uang yang seharusnya banyak membantu proses operasional klub. Di klub ISL memang peran sponsor masih sepenggal-sepenggal dalam arti satu klub tidak hanya satu pesan sponsor tetapi lebih dari satu. Misal untuk produk kostum dari Nike, logo kostum bertuliskan Bank Papua.
Memang harus ada pengaturan yang jelas dalam hal sponsor. Bisa saja klub mengikat kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang pemiliknya masuk orang-orang terkaya di Indonesia misal Djarum, HM Sampoerna, Grup Bakrie atau perusahaan lokal seperti Sido Muncul, Bank pemerintah bahkan perusahaan asing seperti Freeport, Honda, Yamaha dapat dijadikan partner. Dalam hal ini penulis memberi apresiasi yang tinggi terhadap perusahaan rokok Djarum, bahwa melalui Djarumlah prestasi-prestasi olahraga anak negeri dapat terakomodasi. Tidak hanya melalui sepakbola saja tetapi Djarum sudah mendunia dengan bulutangkisnya. Menurut saya pemerintah tidak usahlah menyampaikan pesan-pesan pihak asing yang justru malah menghancurkan tidak hanya segi olahraganya tetapi masuk ke segi ekonomi seandainya pemerintah ikut-ikutan melarang produk rokok. Memang kalau ada sponsor selain Djarum boleh-boleh saja dijadikan partner, seperti dulu ada Liga Djos Indonesia kemudian ini mengikat Ti Phone.
            Betapa manisnya jika nantinya setiap klub diberi otoritas sendiri tanpa dicampuri tangan-tangan PSSI, dan untuk saat ini memang setiap klub harus mulai dikelola secara proporsional dan profesional sejati sehingga diharapkan ada sedikit klub tapi berlabel profesional. Karena untuk menuju ke profesional ada syarat-syarat yang harus dipenuhi klub. Maka apabila itu dikaji dan dinilai dari berbagai aspek, maka dapat menjadi peluang bisnis seperti halnya klub-klub besar di negara sepakbola, alasannya :
1)      Dengan majunya tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat terhadap kualitas sebuah klub sepakbola dan pemain berkualitasnya, maka penonton akan datang ke venue meski ada siaran live dari TV pemegang hak siar sekalipun.
2)      Dengan berkembangnya bisnis sepakbola maka sepakbola dapat menjadi komoditas unggulan ekonomi baik di tingkat nasional maupun daerah.
3)      Dengan ditargetkannya pariwisata sebagai komoditas unggulan abad 21, maka industri  sepakbola dapat berpeluang maju seiring dengan kemajuan industri pariwisata.

Tetapi apabila dikaji juga dari beberapa aspek peluang bisnis sepakbola dapat juga menjadi ancaman bagi keberadaan pemain-pemain muda usia, alasannya :
1)      Kurang profesionalnya cara, sistem dan pengelolaan sepakbola di Indonesia serta kurang terpadu dan selarasnya penjabaran kebijakan pemerintah, maka akan mengancam bisnis sepakbola itu sendiri.
2)      Dengan terbukanya pasar barang dan jasa, baik regional maupun global terbuka kesempatan bagi masuknya tenaga kerja asing dari negara-negara  Asean dan manca negara lainnya, sehingga mengancam keberadaan pemain nasional dan lokal untuk bersaing dengan kepiawaian dari segi teknik, taktik, fisik dan psikis dengan pemain asing.
3)      Adanya serbuan pemain-pemain asing yang harganya relatif lebih murah, lebih berkualitas, lebih bermutu disbanding dengan pemain lokal, akan mengancam keberadaan pemain lokal untuk bisa bersaing.

            Melalui momen kebangkitan Timnas U-23 di Sea Games Myanmar 2013 dan piala dunia 2014 di Brazil serta momentum kebangkitan Timnas U-19 yang akan tampil di piala asia U-19 akan menjadi penutup kebangkitan prestasi Timnas Sepakbola di akhir tahun 2013 ini. Dan merupakan satu langkah maju yang perlu diacungi jempol, karena sadar diri akan apa yang selama ini terkait dengan persepakbolaan saat ini belum menjadi sebuah industri sepakbola, padahal sebuah industri akan menghasilkan barang dan jasa. Setidak-tidaknya apa yang telah dilakukan PSSI dengan kompetisi ISLnya sudah lebih baik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya meskipun prestasi yang dihasilkan belum optimal, tetapi mungkin melalui paparan di atas para pengelola klub sepakbola dapat lebih arif dan bijak dalam mengelola suatu klub sepakbola sehingga tidak hanya sebagai kegiatan rutin saja dengan menghabiskan dana milyaran rupiah tetapi dapat belajar menghasilkan dana milyaran rupiah.
            Melalui sumbang pikir dari saya ini, meskipun mungkin tidak ada manfaatnya, namun saya sebagai pemerhati olahraga khususnya sepakbola merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menyampaikan ungkapan pribadi saya yang mungkin dapat bermanfaat bagi pembaca dan lebih khusus para pengelola klub sepakbola, sehingga apa yang menjadi beban pendanaan klub sepakbola dapat lebih ditemukan jawabannya.
            Terimakasih atas kesempatannya.


Referensi :
Tabloid BOLA 2007
SARASEHAN OLAHRAGA di Jepara 2009
  

Friday, 28 October 2011

Upaya Meningkatkan Kesegaran Jasmani melalui modifikasi alat dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani pada siswa kelas VI SDN 2 Sukosono Kedung Jepara


Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan,
perilaku hidup sehat, aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Pengalaman belajar yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan yang aman, efisien, dan efektif.
Penelitian ini bertujuan :
1)      Mengetahui perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan modifikasi alat dalam pendidikan jasmani
2)      Mengetahui seberapa banyak perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan modifikasi alat dalam pendidikan jasmani.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang merupakan suatu siklus yang terdiri atas : adanya masalah-rencana tindakan-pelaksanaan tindakan-evaluasi dan refleksi. Subyek yang digunakan adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri 2 Sukosono Kedung Jepara tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 46 siswa.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1)      Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, salah satunya adalah melalui aktivitas jasmani.
2)      Pendidikan jasmani dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesegaran jasmani
3)      Dalam proses pendidikan jasmani diperlukan adanya modifikasi dan variasi pembelajaran.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan model pembelajaran dengan pendekatan modifikasi alat dalam pembelajaran ada dampak perubahan motivasi dan sekaligus tingkat kesegaran jasmani siswa. Hal ini disebabkan karena mereka dapat belajar sambil bermain. Dengan kegiatan ini pula kemampuan kognitif, afekfif dan psikomotorik siswa dapat berkembang.

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan ranah jasmani, tetapi juga mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olah raga.
Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-spritual-dan sosial), serta pembiasan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.
Pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat penting dalam mengintensifkan penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah dan terencana. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru harus dapat mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan / olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur kerjasama, dan lain-lain) dari pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan dikdakdik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan dan memeliharan kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia.
Adapun ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi aspek permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri / senam, aktivitas ritmik, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas.
Sesuai dengan karakteristik siswa SD usia 6-12 tahun, mereka cenderung masih suka bermain dan memang masih dalam periode masa bermain. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif, disamping harus memahami dan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan siswa. Pada masa usia tersebut seluruh aspek perkembangan manusia baik itu kognitif, psikomotorik dan afektif mengalami perubahan. Perubahan yang paling mencolok adalah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis.
Agar standar kompetensi pembelajaran pendidikan jasmani dapat terlaksana sesuai dengan pedoman, maksud dan juga tujuan sebagaimana yang ada dalam kurikulum, maka guru pendidikan jasmani harus mampu membuat pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Untuk itu perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi alat dalam pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, penulis melakukan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan Kesegaran Jasmani melalui Modifikasi alat dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Sukosono Kedung Jepara Tahun Pelajaran 2010/2011.

B. Identifikasi Masalah
Dengan adanya kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pedoman bagi guru dan merupakan bahan kegiatan dalam pembelajaran, maka siswa perlu mempelajari dan melaksanakan untuk mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan. Untuk mencapai standar kompetensi tersebut bukanlah yang mudah. Adapun permasalahan-permasalahan yang muncul dilapangan adalah sebagai berikut:
1)      Banyak dikalangan pendidikan yang belum memahami tentang perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olah Raga.
2)      Kurangnya pemahaman dari siswa tentang maksud dan tujuan pendidikan jasmani sehingga pada proses pembelajaran belum semua antusias untuk beraktivitas jasmani.
3)      Kurangnya pemahaman tentang arti pentingnya tubuh bugar dan sehat, sehingga mereka mengikuti pendidikan jasmani hanya sekedar ikut bermain.

C. Batasan Masalah
Penelitian ini memiliki beberapa batasan yang perlu dikembangkan agar substansi penelitian ini tidak melebar dan agar dapat kesepahaman penafsiran tentang substansi yang ada dalam penelitian ini. Batasan-batasan masalah tersebut adalah sebagaimana berikut ini:
1)      Penelitian ini hanya menitikberatkan pada model pembelajaran dengan pendekatan modifikasi alat untuk meningkatkan kesegaran jasmani siswa.
2)      Penelitian ini menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan modifikasi alat pada pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan tingkat kesegaran jasmani siswa.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1)      Apakah pembelajaran pendidikan jasmani dengan model pembelajaran dengan modifikasi alat tingkat kesegaran jasmani siswa dapat meningkat?
2)      Seberapa besar peningkatan tingkat kesegaran jasmani siswa setelah mengikuti model pembelajaran dengan modifikasi alat dalam pendidikan jasmani.

E. Tujuan Pendidikan
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah :
1)      Mengetahui perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan modifikasi alat dalam pendidikan jasmani.
2)      Untuk mengetahui seberapa besar perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan modifikasi alat dalam pendidikan jasmani.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yaitu :
1. Guru
Untuk meningkatkan kualitas mengajar dan mencoba menerapkan model pembelajaran sebagai inovasi baru dalam proses pembelajaran
2. Siswa
Dengan banyaknya model pembelajaran mereka mendapatkan banyak variasi dalam pembelajaran. Selain itu siswa dapat belajar sambil bermain
3. Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan sekolah untuk mengembangkan model pembelajaran.